Judul : Imaji
Dua Sisi
Penulis : Sayfullan
Editor : Itanov
Desainer cover :
Aan_Retiree
Layouter : Fitri Raharjo
Pracetak : Endang
Penerbit : de TEENS
Terbit : Juni 2014
Tebal : 332 hlm
ISBN : 978-602-7968-86-8Blurb :
“Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun
lebih bersama tanpa cinta? Mana logis ikatan kita inihanya karena feromon yang
sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat!”
“Bohong! Aku tak lagi mempercayaimu, Bum! Atau,
minyak itu sekarang telah habis hingga aku merasa tak ada lagi cinta antara
kita!”
“Kamu kenapa, Lintang? Kenapa sikapmu berubah?”
Sebagian orang percaya, ada hal lain yang
membuat hati merasakan cinta pada orang lain. Bukan perkara dari mata turun ke
hati, tapi sesuatu yang misterius melalui sebuah eksperimen kimiawi yang tidak
mudah....
***
Lintang. Gadis pemberani sekaligus gak terlalu
peduli soal penampilan feminim yang selalu diagungkan para wanita. Menyimpan
cerita masa lalu yang bisa mengoyak hati perempuan manapun yang merasakannya.
Bara. Laki-laki pemberani, keren dan juga sok pahlawan pada awalnya. Merupakan sahabat
baik gadis itu. Juga menyimpa rahasia yang kelam untuk dirinya sendiri dan juga
orang terdekatnya.
Bumi. Laki-laki lugu dan juga bisa dikatakan
sedikit cupu. Merupakan sahabat dari Bara dan Lintang. Menyimpan sebuah mimpi
yang tidak biasa. Dan bagaimana selanjutnya?
***
Bercerita tentang tiga orang anak manusia yang
dipertemukan di salah satu universitas unggulan, Undip. Berada di Jurusan yang
sama yakni Teknik Kimia, Lintang, Bumi dan juga Bara menjadi semakin dekat. Awalnya mereka
bertiga adalah sosok yang menarik perhatian senior karena keluguan, keberanian
dan juga sikap cueknya. Dan karena insiden Ospek salah kira itu, kedekatan
mulai merambati ketigaya. Kedekatan ketiganya pun kemudian semakin dikukuhkan
dengan mereka satu kelompok dalam LDO. Yah, masa di mana senior masih saja
menjadi penguasa.
Di sisi lain, Repi, teman Lintang menaruh
perhatian pada Bara. Cowok cool dan juga tampan. Tapi sayangnya, dia bukan dari
bagian kelompok LDO mereka. Coba saja Repi satu kelompok dengan mereka, akan
ada drama yang akan jadi tontonan umum.
Tidak lama di Semarang, luka lama yang berusaha
Lintang tutup rapat-rapat kini sengaja terbuka. Bagaimana tidak, laki-laki yang
ia dulunya ia cintai akan segera menikahi kakaknya sendiri. Kuliah di Semarang
pun adalah bagian dari pelarian dirinya dari kenyataan yang ada. Ia harus tetap
pada pendiriannya. Atau kalau tidak, sekali ia goyah, akan ada banyak orang
yang tersakiti. Dan seperti itulah Lintang. Cewe tangguh yang menyembunyikan
tangisannya dibawah hujan. Tetesan air matanya seakan menyatu dengan tetesan
air hujan yang seakan mengerti perasaannya. Itulah bagian terbaik dari hujan.
Kalian tidak perlu terlihat sedih walaupun sebenarnya kalian memang sedih.
Bara. Laki-laki sok jagoan di kelas perdana
Kimia organik. Kelas yang terkenal dengan kesan suram karena dosennya yang
terkesan killer. Dan betapa bodohnya
ia saat ia di permalukan di dalam kelas. Saat ia berusaha membantu Lintang yang
terlambat dengan mengatakan bahwa gadis itu adalah senior yang salah masuk
ruangan. Apesnya, ternyata Lintang adalah calon asisten laboratorium KO.
Sungguh malang si Bara.
Lain lagi Bumi. Cowok culun yang bawaannya grogi
dan nggak pede, memperhatikan Lintang
dari awal perkenalan. Sosok gadis itu mengingatkannya pada sosok ibunya dulu. Hingga
dengan sikap lugunya, ia mulai mendekati Lintang secara perlahan. Ia tahu
dirinya menyukai Lintang. Tapi ia semakin yakin saat Lintang juga mmeberi
respon yang sama padanya.
Bumi dan Bara. Adalah cowok yang dengan
terang-terangan mendekati Lintang. Lintang yang sedikit tidak tanggap hanya
mengira bahwa keduanya hanya sedang menawarkan produk pertemanan yang baik. Di sisi lain, Repi dengan sangat
antusias degan kehadiran Bara membuat Lintang memilih untuk menghabiskan waktu
bersama Bumi. Dan di sinilah semua rasa bermula. Saat perhatian di salah artikan.
Saat perjuangan harus terhenti di tengah jalan. Dan saat harapan berubah
menjadi sebuah teka-teki.
Bara yang kemudian ketahuan oleh Repi ternyata
sedang sakit. Yang mengharuskan laki-laki itu meminum rutin beberapa jenis obat
berbeda. Mau tak mau, Bara menceritakan juga semua ceritanya pada gadis itu
sekaligus cerita keluarganya yang terungkap secara tidak sengaja. Tampang cool
tidak menjamin kehidupan orang itu bahagia. Karena terkadang semuanya berusaha
disembunyikan dibalik topeng kesempurnaan.
Lain lagi Bumi yang menciptakan mimpinya untuk
mengekstrak feromon. Hal yang tidak biasa bagi orang biasa. Atau Bumi bukan
orang yang biasa?
Hingga Lintang, yang membuka rahasianya pada
sosok Bara tentang masa lalu yang berusaha ia sembunyikan di bawah naungan
hujan.
Semuanya terjadi begitu cepat. Sosok Bumi yang
mengaku pada Bara bahwa ia menyukai Lintang dan ingin menyatakan perasaannya.
Sosok Bara yang kemudian secara sukarela membantu Bumi walaupun sebenarnya
terasa berat karena ia membohongi perasaannya sendiri.
Hingga berujung pada kekesalan Bumi yang merasa
dikhianati Bara dengan kepergiannya dengan Lintang ke acara pernikahan kakaknya
sebagai pacar Lintang.
Lalu bagaimana saat rahasia yang berusaha
Lintang dan keluarganya sembunyikan selama ini diketahui kakaknya, Langit?
Dan bagaimana saat Lintang perlahan-lahan di
tinggalkan oleh sosok yang selama ini menemaninya sejak kuliah di Undip?
Dimulai dari Bumi, Bara dan Repi?
***
Untuk kak Sayfullan, makasih untuk buntelan
bukunya yang benar-benar bikin mupeng dan sukses buat aku gak keluar kamar. Haha,,,
akibatnya dikirain pingsan!!! Lol.
Untuk covernya sendiri, saya cukup salut sama desainer covernya sendiri. Mengingatkan saya dengan laboratorium yang di penuhi dengan alat-alat dan cairan-cairan NaCl dan sebagainya. Dengan perpaduan warna yang cukup natural menurut saya, cocok banget sama covernya dan konsep cerita. Berbicara tentang cover, sosok yang ada di cover itu pasti Bumi. Eh, iya. Dia Bumi! Di mana di cover itu, sosok Bumi seakan sedang melakukan suatu eksperimen. Yah! Eksperimen yang selalu ada di kepalanya. Mengekstrak feromon! And honestly, aku cinta cover ini.
Untuk settingnya sendiri yang memang mengambil lokasi di Semarang dan kampus Undip yang untuk penulis sudah pasti tidak asing lagi. Jadi, walaupun belum pernah ke Semarang, feel kotanya dapat. Untuk deskripsinya, menurut aku penulis sendiri sudah tahu bagaimana situasi dan kondisinya di sana, jadi nggak perlu ragu lagi sama pemilihan kotanya sendiri.
Untuk karakter tokoh menurut aku di sini unik yah. Ada tiga tokoh utama yang mempunyai karakter yang beda-beda. Dimulai dari Lintang yang sosoknya pemberani sekaligus jauh dari kata feminim. Bara yang cool tapi sebenarnya cukup rapuh. Dan finally sosok Bumi yang beda dari lain. Sopan tapi sekaligus bikin gregetan sendiri. Karakter Bumi sendiri kuat banget menurut aku. Untuk karakter Bara sendiri, ini karakternya penulis sendiri yah?? Eh, tapi kak Sayfullan cool gak, kayak Bara?? Eh,, #Apaan!!! #Lupakan.
Tapi ada satu pertanyaan dari aku untuk penulis. Cerita ini based on true story gak sih? Kok feelnya kerasa banget yah?? Asal jangan aja kak Sayfullan di jadikan kelinci percobaannya Bumi. Hehe J
Konflik dan intrik dalam ceritanya sendiri dibangun cukup baik. Ada bagian yang membuat saya sebagai pembaca menerka-nerka tapi salah juga pada akhirnya. Jadi akhirnya karena setelah seringnya menerka-nerka, saya pasrah sama ceritanya. Dan sekali lagi saya salut sama penulis dengan selingan humornya yang ringan untuk pembaca.
Untuk Endingnya, “Benarkah aku mencintaimu karena Feromon, Bum?”
Aku nemuin beberapa kata yang salah penulisan sih sebenarnya. Juga ada bagian yang mungkin kalimatnya sedikit kurang cocok yah, menurut aku. Tapi nggak sampai ngurangin minat baca sih, karena cum satu, dua kalimat doang.
Aku kasih 4 bintang untuk buku yang menakjubkan ini.
Untuk covernya sendiri, saya cukup salut sama desainer covernya sendiri. Mengingatkan saya dengan laboratorium yang di penuhi dengan alat-alat dan cairan-cairan NaCl dan sebagainya. Dengan perpaduan warna yang cukup natural menurut saya, cocok banget sama covernya dan konsep cerita. Berbicara tentang cover, sosok yang ada di cover itu pasti Bumi. Eh, iya. Dia Bumi! Di mana di cover itu, sosok Bumi seakan sedang melakukan suatu eksperimen. Yah! Eksperimen yang selalu ada di kepalanya. Mengekstrak feromon! And honestly, aku cinta cover ini.
Untuk settingnya sendiri yang memang mengambil lokasi di Semarang dan kampus Undip yang untuk penulis sudah pasti tidak asing lagi. Jadi, walaupun belum pernah ke Semarang, feel kotanya dapat. Untuk deskripsinya, menurut aku penulis sendiri sudah tahu bagaimana situasi dan kondisinya di sana, jadi nggak perlu ragu lagi sama pemilihan kotanya sendiri.
Untuk karakter tokoh menurut aku di sini unik yah. Ada tiga tokoh utama yang mempunyai karakter yang beda-beda. Dimulai dari Lintang yang sosoknya pemberani sekaligus jauh dari kata feminim. Bara yang cool tapi sebenarnya cukup rapuh. Dan finally sosok Bumi yang beda dari lain. Sopan tapi sekaligus bikin gregetan sendiri. Karakter Bumi sendiri kuat banget menurut aku. Untuk karakter Bara sendiri, ini karakternya penulis sendiri yah?? Eh, tapi kak Sayfullan cool gak, kayak Bara?? Eh,, #Apaan!!! #Lupakan.
Tapi ada satu pertanyaan dari aku untuk penulis. Cerita ini based on true story gak sih? Kok feelnya kerasa banget yah?? Asal jangan aja kak Sayfullan di jadikan kelinci percobaannya Bumi. Hehe J
Konflik dan intrik dalam ceritanya sendiri dibangun cukup baik. Ada bagian yang membuat saya sebagai pembaca menerka-nerka tapi salah juga pada akhirnya. Jadi akhirnya karena setelah seringnya menerka-nerka, saya pasrah sama ceritanya. Dan sekali lagi saya salut sama penulis dengan selingan humornya yang ringan untuk pembaca.
Untuk Endingnya, “Benarkah aku mencintaimu karena Feromon, Bum?”
Aku nemuin beberapa kata yang salah penulisan sih sebenarnya. Juga ada bagian yang mungkin kalimatnya sedikit kurang cocok yah, menurut aku. Tapi nggak sampai ngurangin minat baca sih, karena cum satu, dua kalimat doang.
Aku kasih 4 bintang untuk buku yang menakjubkan ini.
1 komentar:
Ko ga diupdate blog nya? lagi pada sibuk ya.. padahal saya kalo beli novel pasti baca blog ini buat referensi..
Posting Komentar